Rabu, 12 Agustus 2015

Cerita Kelas...Cerita tak bernama

Novel : Anonymous ( tak bernama) 

Anonymous
A
larm berbunyi disebuah kamar seorang anak tepat pukul 3 dinihari. Anak itu bernama Dede. Anak itu terbangun dan langsung mengambil air wudhu’ untuk mendirikan shalat tahajjud. Air wudhu’ yang membasuhi tubuhnya ia rasa seakan merasuki relung hati serta pikirannya yang telah terjaga oleh buaian mimpi indah yang masih tertinggal dalam ingatannya. Dengan penuh kerinduan kepada Sang Pencipta, ia mendirikan shalat tahajjud dengan penuh khidmat. Lantunan demi lantunan ayat suci Al-Qur’an dilantunkannya dalam shalat yang tanpa ia sadari, ia menangis membayangkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan karenanya. Setelah selesai Shalat,ia menundukkan kepalanya sembari berdo’a mengadukan segala masalah dalam hidupnya yang ia rasakan. Mulai dari masalah-masalah kecil hingga masalah himpitan ekonomi keluarganya yang mulai mengganjal ia untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dede merupakan seorang anak yang hidup dan lahir dari keluarga petani,ayah dan ibunya adalah petani yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain bertani sehingga kehidupan mereka bergantung dari hasil bertani.
Pagi harinya, saatnya dede berangkat sekolah menuntut ilmu untuk cita-cita tertingginya yaitu menjadi Dosen Bahasa Inggris.  Tak lupa sebelum ia berangkat sekolah, ia meminta izin kepada 2 orang tercinta dalam hidupnya yaitu ayah dan ibunya serta bersalaman dengan mereka berdua dengan penuh cinta kasih yang tiada terhingga. Ayahnya selalu berpesan kepadanya ”Nak,Tuntutlah ilmu itu setinggi mungkin,jangan merasa puas dengan ilmu yang kamu miliki sekarang,jadilah orang besar yang memiliki ilmu bukan hanya ilmu dunia,namun juga ilmu akhirat,sebab ilmu adalah gerbang untuk mendapatkan dunia dan akhirat, bercita-citalah setinggi mungkin, bermimpilah melampaui batas imajinasimu karna suatu saat semua itu akan menjadi nyata”  Nasehat yang selalu ia dengar setiap paginya dan menjadi motivasi utama yang mendorong ia untuk terus tetap maju.
Di tengah jalan, ternyata ia telah ditunggu oleh teman akrabnya sejak TK dulu yang bernama iwan. Iwan temannya merupakan seorang anak ceria  namun agak nakal, ia hidup bersama ibunya. Sedangkan ayahnya sudah meninggal sewaktu ketika ia menginjak kelas 2 SMP.
 Saat Dede datang, dengan muka kesal dan nada agak kesal dan mengejek, iwan memulai percakapan “ hey mister ya mister telat,,, telat lagi,,,telat lagi kau dari jadwal. Ah, percuma kau jadi anak pintar, telat mulu. Nih aku, biar gini-gini, aku orang yang paling on time sebumi nusantara. “ Maklum, Iwan merupakan orang yang selalu tepat waktu karena dia mendapat pelajaran yang tak terlupakan, yaitu ia pernah telat dulu, dan karena telat mengerjakan sesuatu, akhirnya ayahnya meninggal.
Dengan tersenyum Dede menjawab “ hehe… yaya. Kamu emang temanku yang paling ra…
Sebelum selesai berbicara, Iwan memotong pembicaraan Dede. “Heit,,,bukan Cuma teman kau yang paling rajin, tapi orang yang paling rajin seasia tenggara…
“ he,, ya deh ya… PR kamu udah jadi belum, pelajaran pak munawar lo sekarang”
“ oh my ghost, De”
“ oh my god mungkin” dede menjawab dengan senyum simpulnya
“ ya. Itu maksudku. PR yang pendapat karl marx dan pendapat si kembar gillin (Gillin dan Gillin),juga ringkasan buku pkn yang 12 lembar tu ya ???
“Ia. Dah jadi kawanku yang paling rajin sebumi nusantara dan seasia tenggara ???
“ hadeh… lupa De. Kamu udah jadi ? haduh pelajaran ke berapa lagi tu ? mudahan bukan yang pertama…
“ udah dong. Ternyata do’a kamu langsung tertolak. Hehe… pelajaran yang pertama tu tau. Kamu lupa ya kalau pak munawar sama pak istiqlal kan tukeran jam ?
“ Haduh,,, lupa lagi… De…. Dede, teman baikku… (dengan  muka merayunya)
Dengan muka berpura-pura jutek, Dede menjawab “ ya, kenapa ?  mau minta jawaban temanku yang rajin seasia tenggara ? sorry aja ya. Tak mau aku…
“ Ah, dede… tau aja. Kau kan temanku yang paling baik senusantara ini… minta dong… please. Dede baik deh, ganteng lagi…”
“ Tadi ngomel-ngomel, sekarang ngerayu...”
“ Kan ana mengkritik untuk memberikan nasihat supaya kita bisa maju dan berubah bersama Dede yang Ganteng “
“ oh, ya ? gitu ya ?
“ya”…
“ ya deh kalok gitu, sekarang aku nasehatin… mencontek itu tidak baik kawanku… lebih baik usaha dan kerjain sendiri.”
“ Ah, Dede,,, tapi kan ini namanya kepepet… buku aja ada yang namanya the power of the kepepet, yah yah… kasih yah”
“ Kamu pasti Cuma baca judulnya aja kan ? ini mah bukan the power of the kepepet…
“ Terus ???”
“ Ini mah the power of the TAKUT… takut dimarahin guru… ujung-ujungnya siapa lagi yang repot ? dede lagi, dede lagi. saya lagi kan ???
 “ Hehehe… ya deh ya. Untuk kali ini bantuin yah…”
“ Ya deh… “
“ Senyum dong Dede, kawanku,,, J
“ ia ia kawanku yang paling rajin sebumi nusantara dan seasia tenggara “
Akhirnya, tanpa mereka sadari, percakapan mereka selama diperjalanan dengan jalan kaki bersama, akhirnya mereka tiba di Madrasah. Madrasah itu bernama Madrasah Aliyah Negeri 1 praya,salah satu sekolah favorit Nusa Tenggara Barat yang mencetak berbagai generasi membanggakan yang di bangun sejak tahun 1969. Sekolah ini di himpit oleh 2 sekolah lainnya yaitu MtsN. Model Praya dan SMK MANAJEMEN. MAN 1 Praya terdiri dari 19 ruang kelas, kelas X terdiri dari 6 kelas, kelas XI terdiri dari 7 kelas, dan Kelas XII terdiri dari 6 kelas, banyak siswa keseluruhannya lebih dari 750 sehingga sekolah ini tak pernah sepi,meskipun sedang libur karena begitu banyaknya acara-acara yang diikuti dan selalu diadakan setiap harinya oleh sekolah, maupun ekstrakurikuler disana.
Iwan, tanpa meminta izin langsung membuka tas Dede dan mengambil buku pkn Dede untuk langsung menyalinnya. Sedangkan Dede hanya bisa tersenyum dan berkata didalam hati “ Iwan, wan… kau ini. Katanya rajin dateng, tapi masalah tugas, tak pernah di perhatikan ckckck…”  Iwan pun langsung berlari untuk masuk kelas dan menyalin tugas-tugas Dede
“Hai De”, sebuah suara memanggil di depan gerbang ke-2 ( Kebetulan sekolah itu memiliki 2 pintu gerbang masuk). Dede pun menjawabnya “ Hai juga. Eh kang Heri,yang rajin jaga pintunya ya kang, asal jangan jadi patung aja, hehe… “ Dengan muka tersenyum dari mukanya yang saat ini sudah mulai mengkerut, kang Heri pun menjawab sembari menepuk pundak Dede “ Ah kau ini De. Ayo cepetan masuk, udah mau jam 7 ni.”  Dede pun menjawab dengan tangannya di dahi (seperti posisi tangan untuk hormat saat upacara)
“ Siap Pak post.”  
“Eh, aku ini Satpam, bukan tukang post.”
“ oh ia, siap pak satpam “ J.
Kelas Dede dan Iwan terletak di lantai 2 paling timur dan paling berdekatan dengan Perpustakaan. Ketika hendak ke kelasnya yang berada di lantai 2 dan berjalan menaiki tangga, baru anak tangga pertama Dede ingin melangkah… “ hoy “ sebuah suara mengagetkan Dede dari belakang, lalu dengan agak kesal, Dede menengok belakang.
“Ah kamu Erul, kirain siapa”.
“ hehe,,, ya aku ini akh* yang ganteng, emang siapa lagi ?”
“Ah erul, kebiasaan kamu. Saya masuk dulu ya akh erul, dah mau masuk juga ni kan ?
“ Oh ya. Ayo dah De, kita masuk kelas masing-masing”
Dede pun langsung masuk ke dalam kelasnya yang berada di kelas XII BAHASA,sedangkan Erul langsung masuk ke kelas XII IPA­­2.
Akhirnya, Dede pun masuk ke kelas yang dicintainya yaitu kelas XII BAHASA.   Kelas Dede adalah kelas yang cukup besar  dengan cat warna biru muda pada tembok warna depan dan belakang, dan cat warna biru tua pada tembok sebelah kanan dan kirinya, Di bagian kiri dan kanannya terdapat jendela namun bagian kiri tempat laki-laki tidak dipakaikan korden, sedangkan bagian kanan tempat duduk wanita di pakaikan korden. Kelas ini terdiri dari 19 meja dan 38 kursi siswa dan didepan meja siswa ada 1 meja dan satu kursi guru. Di kelas ini pun terdapat LCD Projektor,Kalender, foto presiden & wakil presiden, tak lupa juga 2 buah kaligrafi di samping kanan kiri dan kanannya yang bertuliskan lafaz “ALLAH” dan “MUHAMMAD”.
Kelas ini dapat di katakan sebagai kelas yang unik, karena Pada tembok bagian belakangnya ada 4 buah huruf yang terukir dengan indah dan selalu menjadi kebanggaan kelas XII Bahasa yaitu  “ L C C A” kepanjangan dari “Language Class Culture Awarness” yang kalau tidak salah berarti “Kelas bahasa yang sadar/perhatian terhadap kebudayaan”
Tulisan XII Bahasa "LCCA" pada dinding

Dede hanya bisa tersenyum malu ketika melihat ke-4 huruf tersebut karena ia tahu dan sadar benar arti dari 4 buah huruf itu. Dia selalu berpikir dan bergumam dalam hati “ katanya kelas yang peduli pada kebudayaan dan lingkungan, tapi kok selalu kotor dan jarang dibersihkan?”
Di kelas, ternyata teman-teman Dede, termasuk Iwan sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas pkn yang sebentar lagi akan di ajarkan dan diperiksa pada jam pertama. Namun ada 1 orang teman wanitanya yang terlihat santai tanpa rasa gelisah sedikit pun. Nama temannya itu adalah Nova Ismala, salah satu saingan terberatnya di kelas BAHASA. Di kelas XI BAHASA, Nova lah yang selalu mendapat peringkat pertama baik pada semester ganjil maupun genap. Tentu saja hal ini membuat Dede merasa sangat tersaingi olehnya. Pernah suatu ketika setelah pembagian raport semester genap, Dede dengan nada optimisnya menantang nova dalam hal nilai. Dede berani menantang nova secara sportiv guna untuk menanamkan kepada diri dan perasaannya agar terus dan terus semangat untuk mendapatkan peringkat pertama, benar saja, ketika ia naik ke kelas XII Bahasa pada saat semester ganjil, Dede mendapatkan juara pertama, menyalip nova dengan jarak nilai yang lumayan jauh.
“Eh, De… ngapain bengong-bengong di depan pintu ? teman-teman yang lain mau masuk tuh…” nova menggerutu
“ Eh, gak apa-apa. Sorry, hehe…” dengan muka lugunya ia tersenyum
“ Ia ni, ngelamun di depan pintu, ntar kemasukan setan baru tau rasa “ wahidin, salah satu teman dede ikut menggerutu
Dari dalam kelas Iwan menyahut dengan nada bercanda …
 “ Gak mungkin lah Dede kesurupan, tau sendiri dia yang paling alim di kelas kita. Tiap malam shalat tahajjud, tuh lihat, kantung matanya sampai punya kantung mata”
“ Ah, Iwan. Bisa aja. Aku kok yang salah. Sorry din, sorry ova “.
Akhirnya Dede pun duduk di kursinya sembari menaruh tasnya ke dalam meja dan mengambil buku pkn untuk di baca ulang. Ketika Dede sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba...
“Ihtiraaam.... hayyu”. Suara ketua kelasnya yang bernama Da’ul mengagetkannya, yang berarti guru sudah masuk ke kelasnya
Murid-murid dengan muka gelisah, berdiri dan menjawab :
 “ Assalamu’alaikum wr.wb”
Pak Munawar pun menjawab :
 “Waalaikumussalam wr.wb”
Pak munawar membuka percakapan :
“Ya silahkan anak-anak dikumpulkan tugasnya. Sini bapak periksa”
Dede langsung mengambil bukunya di Iwan tanpa meminta izin, sedangkan Iwan hanya bisa pasrah tanpa perlawanan karena  sudah tau posisinya sebagai peminjam J. Dede, Nova, dan 4 orang teman lainnya mengumpulkan dengan wajah gembira, sedangkan 32 teman lainnya hanya bisa duduk dengan wajah gelisah dan takut
“ Ya, silahkan bagi yang tidak mengumpulkan pergi ke lapangan” dengan nada santai, pak munawar menyuruh.
Para siswa yang tidak mengumpulkan tugas akhirnya pergi beriringan diikuti oleh pak munawar dari belakang. Pak munawar merupakan tipe guru yang santai namun tegas, sehingga banyak siswa-siswa yang dekat dengan beliau khususnya anak-anak yang rajin dan aktif di kelas. Kuranglebih sekitar 15 menitan pak munawar di luar untuk memberikan beberapa patah kata kepada anak-anak untuk di jemur.
Akhirnya pak munawar masuk kembali ke kelas dan mengajarkan materi kepada 6 siswa lainnya yang sempat mengerjakan, meskipun ada sebagian yang mengerjakan PR itu di sekolah... proses belajar mengajar terus berlanjut, teman-teman yang tidak mengerjakan PR diluar hanya bisa pasrah berdiri di lapangan bersama dengan panas terik matahari.
Setelah selesai pelajaran pertama, berlanjut ke pelajaran ke-2, dan seterusnya hingga pelajaran yang ke-4. Menjelang pulang, udara terasa begitu panas. Waktu telah menunjukkan pukul 13.30 . hari yang begitu panas, namun Dede merasa begitu senang karena melihat mentari hatinya tersenyum. Mentari hatinya itu bernama Yuliani, salah satu adik kelasnya yang berada di kelas XI Bahasa. Perasaannya kepada Yuliani sudah lama ia rasakan sejak Dede berada di kelas XI bahasa. Selama setahun lebih, Dede hanya bisa memendam perasaan yang sudah sangat lama ia rasakan dari lubuk hatinya. Namun, kini mereka berdua sudah saling tahu-menahu bahwa mereka berdua saling mencintai. Ceritanya seperti ini. Kita flash back dulu 3 bulan lalu...
3 bulan lalu saat sedang liburan sekolah, Yuliani mengirim sms ke Dede
Yuli   : “Assalamu’alaikum kak”
Dede : “Waalaikumussalam wr.wb, ada apa ya dik ? tumben nih sms. hehe “
Yuli : “ gak ada apa-apa kok kak, mau smsan j dah sama kakak”
Dede : “Aih, ada yang kangen sama saya ni kayaknya”
Yuli : “Ah kakak mah...”
Dede : “ kenapa adikku yang imut ?“
Yuli : “ kakak bisa aja. Saya gak imut kok kak, jelek padahal saya”
Dede: “Siapa yang bilang adik jelek ? udah buta mungkin dia sampai gak bisa lihat kecantikan adikku yang imut ni”
Yuli : “Syukron kak, hehe...”
Dede: “afwan dik. Tapi kenyataannya kan gitu J
Yuli : “ gih. Eh, kok kakak bisa tahu ???”
Dede : Tahu apa dik ?
Yuli : kok kakak bisa tahu kalau saya lagi kangen sama kakak ?
Dede: Ah ? beneran adik kangen sama saya ? jd ngerasa Gr nih ana. Hehe
Yuli : ya kak
Dede:   kesepian rasanya di rumah dik, gak ada temen. Serasa kayak mentari itu lagi murung
Yuli : kakak jak. J. Saya mau kok jadi mentari buat kakak kalau kakak mau
Dede : adik mau emang ? hehe... kalau jadi mentari hati saya dik ? adik mau ?
Yuli :     adik mau kak. Tapi kakak ? kayaknya kakak gak akan mau saya jadi mentari hati kakak, saya kan orang jelek kak
Dede : saya mau kok dik. Sebenarnya sudah lama saya sayang sama adik... sudah lebih dari tahun. saya lihat senyum adik, canda ceria sama adik, saya merasa senang sama adik. Entah kenapa, saya merasa tenang saat bersama adik
Yuli : benarkah kak ?
Dede : ya dik. Semua itu saya katakana dari lubuk hati yang dalam
Yuli : entah kenapa kak, saya juga ngerasa nyaman bersama kakak. Saya juga sayang sama kakak
Dede : ternyata kita sama-sama sayang dan memendam perasaan kita yang cukup lama dik. Jadi, boleh saya panggil adik dengan sebutan lain ?
Yuli : hehe... boleh kak. Mau sebutan apa tapi kak ?
Dede : kekasih, dinda ? gimana ?
Yuli : mmm,,, kayaknya kedengaran kurang ana suka dik
Dede : terus apa ya dik ?
Yuli : gimana kalau aby & ummy ? kak ? gimana ?
Dede : hehe... ya deh, terserah ummy aja.
Yuli : jadi mulai sekarang sekarang saya panggil kakak aby . hahay. Eh tapi by
Dede : tapi kenapa ummy ?
Yuli : pakai sebutan itu Cuma saat smsan yah. Kan malu kalau kedengeran sama teman-teman nanti
Dede : ya ummy. saya tau kok ummy
Yuli : satu hal lagi aby, jangan tersinggung tapi ya
Dede : ya, apa ? kenapa harus tersinggung ?
Yuli : artinya kita pacaran apa gak ?
Dede : mmm...ummy maunya gimana ?
Yuli :     mmm... gak tau by. Saya takut aja ntar ada yang sakit hati atau apa. Soalnya dulu-dulu saya pernah sayang juga ke seseorang, tapi sekarang udah gak. Maunya aby gimana ?
Dede : ya dah. jadi kita gak pacaran tapi kita taarufan ya. Saya juga lihat hubungan itu tak terlalu penting buat saya, yang terpenting itu perasaan adik buat saya. Itu dah cukup kok buat saya dik
Yuli : ya dah aby. Alhamdulillah, aby bisa ngerti
Dede : ya ummyku tersayang J
Sinar matahari pun sudah bersiap-siap menampakkan mukanya dengan cerah kepada semua orang-orang,kuning keemasannya membuat siapapun yang melihatnya terbit akan terpana karena begitu indahnya cahaya kuning keemasan yang hendak muncul.
Dede bangk

Kini Sang surya terperanjat dari tempat tidurnya mendendangkan sejuta rayuan kepada semua Insan dunia.

Suara ayam kian berkokok mendahului insan yang tngah terlelap tidur dalam mimpi indahnya. Nun jauh disana,seorang pemuda terbangun bersama kokokan suara ayam yang dengan merdunya saling bersahut-sahutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar