Novel : Anonymous ( tak bernama)
Anonymous
larm berbunyi disebuah kamar seorang
anak tepat pukul 3 dinihari. Anak itu bernama Dede. Anak itu terbangun dan
langsung mengambil air wudhu’ untuk mendirikan shalat tahajjud. Air wudhu’ yang
membasuhi tubuhnya ia rasa seakan merasuki relung hati serta pikirannya yang
telah terjaga oleh buaian mimpi indah yang masih tertinggal dalam ingatannya.
Dengan penuh kerinduan kepada Sang Pencipta, ia mendirikan shalat tahajjud
dengan penuh khidmat. Lantunan demi lantunan ayat suci Al-Qur’an dilantunkannya
dalam shalat yang tanpa ia sadari, ia menangis membayangkan semua kesalahan
yang pernah ia lakukan karenanya. Setelah selesai Shalat,ia menundukkan kepalanya
sembari berdo’a mengadukan segala masalah dalam hidupnya yang ia rasakan. Mulai
dari masalah-masalah kecil hingga masalah himpitan ekonomi keluarganya yang
mulai mengganjal ia untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih
tinggi. Dede merupakan seorang anak yang hidup dan lahir dari keluarga
petani,ayah dan ibunya adalah petani yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain
bertani sehingga kehidupan mereka bergantung dari hasil bertani.
Pagi harinya, saatnya dede berangkat
sekolah menuntut ilmu untuk cita-cita tertingginya yaitu menjadi Dosen Bahasa
Inggris. Tak lupa sebelum ia berangkat
sekolah, ia meminta izin kepada 2 orang tercinta dalam hidupnya yaitu ayah dan
ibunya serta bersalaman dengan mereka berdua dengan penuh cinta kasih yang
tiada terhingga. Ayahnya selalu berpesan kepadanya ”Nak,Tuntutlah ilmu itu setinggi mungkin,jangan merasa
puas dengan ilmu yang kamu miliki sekarang,jadilah orang besar yang memiliki
ilmu bukan hanya ilmu dunia,namun juga ilmu akhirat,sebab ilmu adalah gerbang
untuk mendapatkan dunia dan akhirat, bercita-citalah setinggi
mungkin, bermimpilah melampaui batas imajinasimu karna suatu saat semua itu
akan menjadi nyata” Nasehat yang selalu
ia dengar setiap paginya dan menjadi motivasi utama yang mendorong ia untuk
terus tetap maju.
Di tengah jalan, ternyata ia
telah ditunggu oleh teman akrabnya sejak TK dulu yang bernama iwan. Iwan
temannya merupakan seorang anak ceria namun agak nakal, ia hidup bersama ibunya.
Sedangkan ayahnya sudah meninggal sewaktu ketika ia menginjak kelas 2 SMP.
Saat Dede datang, dengan muka kesal dan nada
agak kesal dan mengejek, iwan memulai percakapan “ hey mister ya mister
telat,,, telat lagi,,,telat lagi kau dari jadwal. Ah, percuma kau jadi anak
pintar, telat mulu. Nih aku, biar gini-gini, aku orang yang paling on time
sebumi nusantara. “ Maklum, Iwan merupakan orang yang selalu tepat waktu karena
dia mendapat pelajaran yang tak terlupakan, yaitu ia pernah telat dulu, dan
karena telat mengerjakan sesuatu, akhirnya ayahnya meninggal.
Dengan tersenyum Dede menjawab “ hehe…
yaya. Kamu emang temanku yang paling ra…
Sebelum selesai berbicara, Iwan
memotong pembicaraan Dede. “Heit,,,bukan Cuma teman kau yang paling rajin, tapi
orang yang paling rajin seasia tenggara…
“ he,, ya deh ya… PR kamu udah
jadi belum, pelajaran pak munawar lo sekarang”
“ oh my ghost, De”
“ oh my god mungkin” dede
menjawab dengan senyum simpulnya
“ ya. Itu maksudku. PR yang
pendapat karl marx dan pendapat si kembar gillin (Gillin dan Gillin),juga
ringkasan buku pkn yang 12 lembar tu ya ???
“Ia. Dah jadi kawanku yang paling
rajin sebumi nusantara dan seasia tenggara ???
“ hadeh… lupa De. Kamu udah jadi
? haduh pelajaran ke berapa lagi tu ? mudahan bukan yang pertama…
“ udah dong. Ternyata do’a kamu
langsung tertolak. Hehe… pelajaran yang pertama tu tau. Kamu lupa ya kalau pak
munawar sama pak istiqlal kan tukeran jam ?
“ Haduh,,, lupa lagi… De…. Dede,
teman baikku… (dengan muka merayunya)
Dengan muka berpura-pura jutek,
Dede menjawab “ ya, kenapa ? mau minta
jawaban temanku yang rajin seasia tenggara ? sorry aja ya. Tak mau aku…
“ Ah, dede… tau aja. Kau kan
temanku yang paling baik senusantara ini… minta dong… please. Dede baik deh,
ganteng lagi…”
“ Tadi ngomel-ngomel, sekarang
ngerayu...”
“ Kan ana mengkritik untuk
memberikan nasihat supaya kita bisa maju dan berubah bersama Dede yang Ganteng
“
“ oh, ya ? gitu ya ?
“ya”…
“ ya deh kalok gitu, sekarang aku
nasehatin… mencontek itu tidak baik kawanku… lebih baik usaha dan kerjain
sendiri.”
“ Ah, Dede,,, tapi kan ini
namanya kepepet… buku aja ada yang namanya the power of the kepepet, yah yah…
kasih yah”
“ Kamu pasti Cuma baca judulnya
aja kan ? ini mah bukan the power of the kepepet…
“ Terus ???”
“ Ini mah the power of the TAKUT…
takut dimarahin guru… ujung-ujungnya siapa lagi yang repot ? dede lagi, dede
lagi. saya lagi kan ???
“ Hehehe… ya deh ya. Untuk kali ini bantuin
yah…”
“ Ya deh… “
“ Senyum dong Dede, kawanku,,, J
“ ia ia kawanku yang paling rajin
sebumi nusantara dan seasia tenggara “
Akhirnya, tanpa mereka sadari,
percakapan mereka selama diperjalanan dengan jalan kaki bersama, akhirnya
mereka tiba di Madrasah. Madrasah itu bernama Madrasah Aliyah Negeri 1
praya,salah satu sekolah favorit Nusa Tenggara Barat yang mencetak berbagai
generasi membanggakan yang di bangun sejak tahun 1969. Sekolah ini di himpit
oleh 2 sekolah lainnya yaitu MtsN. Model Praya dan SMK MANAJEMEN. MAN 1 Praya
terdiri dari 19 ruang kelas, kelas X terdiri dari 6 kelas, kelas XI terdiri
dari 7 kelas, dan Kelas XII terdiri dari 6 kelas, banyak siswa keseluruhannya
lebih dari 750 sehingga sekolah ini tak pernah sepi,meskipun sedang libur
karena begitu banyaknya acara-acara yang diikuti dan selalu diadakan setiap
harinya oleh sekolah, maupun ekstrakurikuler disana.
Iwan, tanpa meminta izin langsung
membuka tas Dede dan mengambil buku pkn Dede untuk langsung menyalinnya.
Sedangkan Dede hanya bisa tersenyum dan berkata didalam hati “ Iwan, wan… kau
ini. Katanya rajin dateng, tapi masalah tugas, tak pernah di perhatikan
ckckck…” Iwan pun langsung berlari untuk
masuk kelas dan menyalin tugas-tugas Dede
“Hai De”, sebuah suara memanggil
di depan gerbang ke-2 ( Kebetulan sekolah itu memiliki 2 pintu gerbang masuk).
Dede pun menjawabnya “ Hai juga. Eh kang Heri,yang rajin jaga pintunya ya kang,
asal jangan jadi patung aja, hehe… “ Dengan muka tersenyum dari mukanya yang
saat ini sudah mulai mengkerut, kang Heri pun menjawab sembari menepuk pundak
Dede “ Ah kau ini De. Ayo cepetan masuk, udah mau jam 7 ni.” Dede pun menjawab dengan tangannya di dahi
(seperti posisi tangan untuk hormat saat upacara)
“ Siap Pak post.”
“Eh, aku ini Satpam, bukan tukang
post.”
“ oh ia, siap pak satpam “ J.
Kelas Dede dan Iwan terletak di
lantai 2 paling timur dan paling berdekatan dengan Perpustakaan. Ketika hendak
ke kelasnya yang berada di lantai 2 dan berjalan menaiki tangga, baru anak
tangga pertama Dede ingin melangkah… “ hoy “ sebuah suara mengagetkan Dede dari
belakang, lalu dengan agak kesal, Dede menengok belakang.
“Ah kamu Erul, kirain siapa”.
“ hehe,,, ya aku ini akh* yang
ganteng, emang siapa lagi ?”
“Ah erul, kebiasaan kamu. Saya
masuk dulu ya akh erul, dah mau masuk juga ni kan ?
“ Oh ya. Ayo dah De, kita masuk
kelas masing-masing”
Dede pun langsung masuk ke dalam
kelasnya yang berada di kelas XII BAHASA,sedangkan Erul langsung masuk ke kelas
XII IPA2.
Akhirnya, Dede pun masuk ke kelas
yang dicintainya yaitu kelas XII BAHASA.
Kelas Dede adalah kelas yang
cukup besar dengan cat warna biru muda
pada tembok warna depan dan belakang, dan cat warna biru tua pada tembok
sebelah kanan dan kirinya, Di bagian kiri dan kanannya terdapat jendela namun
bagian kiri tempat laki-laki tidak dipakaikan korden, sedangkan bagian kanan
tempat duduk wanita di pakaikan korden. Kelas ini terdiri dari 19 meja dan 38
kursi siswa dan didepan meja siswa ada 1 meja dan satu kursi guru. Di kelas ini
pun terdapat LCD Projektor,Kalender, foto presiden & wakil presiden, tak
lupa juga 2 buah kaligrafi di samping kanan kiri dan kanannya yang bertuliskan
lafaz “ALLAH” dan “MUHAMMAD”.
Kelas ini dapat di katakan
sebagai kelas yang unik, karena Pada tembok bagian belakangnya ada 4 buah huruf
yang terukir dengan indah dan selalu menjadi kebanggaan kelas XII Bahasa
yaitu “ L C C A” kepanjangan dari “Language Class Culture
Awarness” yang kalau tidak salah berarti “Kelas
bahasa yang sadar/perhatian terhadap kebudayaan”
 |
| Tulisan XII Bahasa "LCCA" pada dinding |
Dede hanya bisa tersenyum malu
ketika melihat ke-4 huruf tersebut karena ia tahu dan sadar benar arti dari 4
buah huruf itu. Dia selalu berpikir dan bergumam dalam hati “ katanya kelas
yang peduli pada kebudayaan dan lingkungan, tapi kok selalu kotor dan jarang
dibersihkan?”
Di kelas, ternyata teman-teman
Dede, termasuk Iwan sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas pkn yang sebentar
lagi akan di ajarkan dan diperiksa pada jam pertama. Namun ada 1 orang teman
wanitanya yang terlihat santai tanpa rasa gelisah sedikit pun. Nama temannya
itu adalah Nova Ismala, salah satu saingan terberatnya di kelas BAHASA. Di
kelas XI BAHASA, Nova lah yang selalu mendapat peringkat pertama baik pada
semester ganjil maupun genap. Tentu saja hal ini membuat Dede merasa sangat
tersaingi olehnya. Pernah suatu ketika setelah pembagian raport semester genap,
Dede dengan nada optimisnya menantang nova dalam hal nilai. Dede berani
menantang nova secara sportiv guna untuk menanamkan kepada diri dan perasaannya
agar terus dan terus semangat untuk mendapatkan peringkat pertama, benar saja,
ketika ia naik ke kelas XII Bahasa pada saat semester ganjil, Dede mendapatkan juara
pertama, menyalip nova dengan jarak nilai yang lumayan jauh.
“Eh, De… ngapain bengong-bengong
di depan pintu ? teman-teman yang lain mau masuk tuh…” nova menggerutu
“ Eh, gak apa-apa. Sorry, hehe…”
dengan muka lugunya ia tersenyum
“ Ia ni, ngelamun di depan pintu,
ntar kemasukan setan baru tau rasa “ wahidin, salah satu teman dede ikut
menggerutu
Dari dalam kelas Iwan menyahut
dengan nada bercanda …
“ Gak mungkin lah Dede kesurupan, tau sendiri
dia yang paling alim di kelas kita. Tiap malam shalat tahajjud, tuh lihat, kantung
matanya sampai punya kantung mata”
“ Ah, Iwan. Bisa aja. Aku kok
yang salah. Sorry din, sorry ova “.
Akhirnya Dede pun duduk di
kursinya sembari menaruh tasnya ke dalam meja dan mengambil buku pkn untuk di
baca ulang. Ketika Dede sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba...
“Ihtiraaam.... hayyu”. Suara
ketua kelasnya yang bernama Da’ul mengagetkannya, yang berarti guru sudah masuk
ke kelasnya
Murid-murid dengan muka gelisah, berdiri
dan menjawab :
“ Assalamu’alaikum wr.wb”
Pak Munawar pun menjawab :
“Waalaikumussalam wr.wb”
Pak munawar membuka percakapan :
“Ya silahkan anak-anak
dikumpulkan tugasnya. Sini bapak periksa”
Dede langsung mengambil bukunya
di Iwan tanpa meminta izin, sedangkan Iwan hanya bisa pasrah tanpa perlawanan
karena sudah tau posisinya sebagai
peminjam J. Dede, Nova, dan 4 orang
teman lainnya mengumpulkan dengan wajah gembira, sedangkan 32 teman lainnya
hanya bisa duduk dengan wajah gelisah dan takut
“ Ya, silahkan bagi yang tidak
mengumpulkan pergi ke lapangan” dengan nada santai, pak munawar menyuruh.
Para siswa yang tidak
mengumpulkan tugas akhirnya pergi beriringan diikuti oleh pak munawar dari
belakang. Pak munawar merupakan tipe guru yang santai namun tegas, sehingga
banyak siswa-siswa yang dekat dengan beliau khususnya anak-anak yang rajin dan
aktif di kelas. Kuranglebih sekitar 15 menitan pak munawar di luar untuk
memberikan beberapa patah kata kepada anak-anak untuk di jemur.
Akhirnya pak munawar masuk
kembali ke kelas dan mengajarkan materi kepada 6 siswa lainnya yang sempat
mengerjakan, meskipun ada sebagian yang mengerjakan PR itu di sekolah... proses
belajar mengajar terus berlanjut, teman-teman yang tidak mengerjakan PR diluar
hanya bisa pasrah berdiri di lapangan bersama dengan panas terik matahari.
Setelah selesai pelajaran
pertama, berlanjut ke pelajaran ke-2, dan seterusnya hingga pelajaran yang
ke-4. Menjelang pulang, udara terasa begitu panas. Waktu telah menunjukkan
pukul 13.30 . hari yang begitu panas, namun Dede merasa begitu senang karena
melihat mentari hatinya tersenyum. Mentari hatinya itu bernama Yuliani, salah
satu adik kelasnya yang berada di kelas XI Bahasa. Perasaannya kepada Yuliani
sudah lama ia rasakan sejak Dede berada di kelas XI bahasa. Selama setahun
lebih, Dede hanya bisa memendam perasaan yang sudah sangat lama ia rasakan dari
lubuk hatinya. Namun, kini mereka berdua sudah saling tahu-menahu bahwa mereka
berdua saling mencintai. Ceritanya seperti ini. Kita flash back dulu 3 bulan
lalu...
3 bulan lalu saat sedang liburan
sekolah, Yuliani mengirim sms ke Dede
Yuli : “Assalamu’alaikum kak”
Dede : “Waalaikumussalam wr.wb,
ada apa ya dik ? tumben nih sms. hehe “
Yuli : “ gak ada apa-apa kok kak,
mau smsan j dah sama kakak”
Dede : “Aih, ada yang kangen sama
saya ni kayaknya”
Yuli : “Ah kakak mah...”
Dede : “ kenapa adikku yang imut
?“
Yuli : “ kakak bisa aja. Saya gak
imut kok kak, jelek padahal saya”
Dede:
“Siapa yang bilang adik jelek ? udah buta mungkin dia sampai gak bisa lihat
kecantikan adikku yang imut ni”
Yuli
: “Syukron kak, hehe...”
Dede:
“afwan dik. Tapi kenyataannya kan gitu J”
Yuli
: “ gih. Eh, kok kakak bisa tahu ???”
Dede
: Tahu apa dik ?
Yuli
: kok kakak bisa tahu kalau saya lagi kangen sama kakak ?
Dede:
Ah ? beneran adik kangen sama saya ? jd ngerasa Gr nih ana. Hehe
Yuli
: ya kak
Dede:
kesepian rasanya di rumah dik, gak ada
temen. Serasa kayak mentari itu lagi murung
Yuli
: kakak jak. J. Saya mau kok jadi
mentari buat kakak kalau kakak mau
Dede
: adik mau emang ? hehe... kalau jadi mentari hati saya dik ? adik mau ?
Yuli
: adik mau kak. Tapi kakak ? kayaknya
kakak gak akan mau saya jadi mentari hati kakak, saya kan orang jelek kak
Dede
: saya mau kok dik. Sebenarnya sudah lama saya sayang sama adik... sudah lebih
dari tahun. saya lihat senyum adik, canda ceria sama adik, saya merasa senang
sama adik. Entah kenapa, saya merasa tenang saat bersama adik
Yuli
: benarkah kak ?
Dede
: ya dik. Semua itu saya katakana dari lubuk hati yang dalam
Yuli
: entah kenapa kak, saya juga ngerasa nyaman bersama kakak. Saya juga sayang
sama kakak
Dede
: ternyata kita sama-sama sayang dan memendam perasaan kita yang cukup lama
dik. Jadi, boleh saya panggil adik dengan sebutan lain ?
Yuli
: hehe... boleh kak. Mau sebutan apa tapi kak ?
Dede
: kekasih, dinda ? gimana ?
Yuli
: mmm,,, kayaknya kedengaran kurang ana suka dik
Dede
: terus apa ya dik ?
Yuli
: gimana kalau aby & ummy ? kak ? gimana ?
Dede
: hehe... ya deh, terserah ummy aja.
Yuli
: jadi mulai sekarang sekarang saya panggil kakak aby . hahay. Eh tapi by
Dede
: tapi kenapa ummy ?
Yuli
: pakai sebutan itu Cuma saat smsan yah. Kan malu kalau kedengeran sama
teman-teman nanti
Dede
: ya ummy. saya tau kok ummy
Yuli
: satu hal lagi aby, jangan tersinggung tapi ya
Dede
: ya, apa ? kenapa harus tersinggung ?
Yuli
: artinya kita pacaran apa gak ?
Dede
: mmm...ummy maunya gimana ?
Yuli
: mmm... gak tau by. Saya takut aja
ntar ada yang sakit hati atau apa. Soalnya dulu-dulu saya pernah sayang juga ke
seseorang, tapi sekarang udah gak. Maunya aby gimana ?
Dede
: ya dah. jadi kita gak pacaran tapi kita taarufan ya. Saya juga lihat hubungan
itu tak terlalu penting buat saya, yang terpenting itu perasaan adik buat saya.
Itu dah cukup kok buat saya dik
Yuli
: ya dah aby. Alhamdulillah, aby bisa ngerti
Dede
: ya ummyku tersayang J
Sinar matahari pun sudah bersiap-siap menampakkan mukanya
dengan cerah kepada semua orang-orang,kuning
keemasannya membuat siapapun yang melihatnya terbit akan terpana karena begitu indahnya
cahaya kuning keemasan yang hendak muncul.
Dede
bangk
Kini Sang surya terperanjat dari tempat
tidurnya mendendangkan sejuta rayuan kepada semua Insan dunia.
Suara ayam kian berkokok mendahului
insan yang tngah terlelap tidur dalam mimpi indahnya. Nun jauh disana,seorang
pemuda terbangun bersama kokokan suara ayam yang dengan merdunya saling
bersahut-sahutan.